Hati-Hati: Ini Dia Hukum Ghibah dalam Islam

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah orang seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Hukum Ghibah dalam Islam

  • Hukum Ghibah Haram (terlarang)

hukum ghibah dalam islamGhibah atau membicarakan orang lain seakan telah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini. Setiap kejadian entah baik atau buruk bisa langsung tersebar ke berbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Tak jarang terdapat berita yang berisi fitnah atau ghibah, seakan hal ini adalah hal yang biasa.

Maraknya acara-acara baik di televisi maupun di media sosial yang memuat berita tentang selebritis maupun orang-orang ternama. Jika yang dibicarakan adalah hal yang mendidik dan bisa memberikan inspirasi bagi orang lain maka tidak masalah. Namun, saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak acara yang hanya membicarakan hal negatif tentang orang lain.

Jika Anda aktif di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya sudah pasti Anda sering menemukan berbagai berita yang tidak diketahui darimana asalnya, apakah benar atau tidak. Banyak oknum yang dengan sengaja menyiarkan berita hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Membuat berita buruk tentang seseorang dan memicu terjadinya perpecahan.

Padahal sudah sangat jelas hukum Ghibah dalam islam adalah terlarang. Bahkan dalam firman Allah QS. An Nur ayat 12 menyatakan orang-orang yang ghibah akan mendapatkan balasan berupa azab yang pedih.

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nur: 12)

Selain firman Allah di atas, ada pula hadits yang membahas tentang hukum ghibah:

Nabi Muhammad SAW bersabda: “hindarilah oleh kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina. Seseorang terkadang berzina kemudian bertaubat kepada Allah SWT dan diterima taubatnya oleh Allah. Sedang orang yang berbuat ghibah, dia tidak akan diampuni sampai orang yang dia ghibahi memaafkannya. (Ihya Ulumuddin, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali)

Baca Juga: Bagaimana hukum merayakan valentine?

  • Hukum Ghibah diperbolehkan

Perlu Anda ketahui, ada pula hukum ghibah yang diperbolehkan dalam islam, dengan batasan-batasan tertentu. Berikut ini merupakan enam bentuk ghibah yang diperbolehkan menurut Imam Nawawi, yaitu:

  1. Diperbolehkan jika seseorang merasa terdzalimi oleh seseorang.

Diperbolehkan bagi seseorang untuk menceritakan kejahatan orang lain yang ia terima kepada pihakberwajib, seperti polisi atau hakim. Misalnya menjadi saksi dari peristiwa perampokan, tentu saksi harus menceritakan tentang ciri-ciri perampok dan rincian kejadiannya kepada yang berwaib.

  1. Untuk meminta bantuan dan menyadarkan si pelaku agar kembali ke jalan yang benar.

Misalkan saja Anda mengetahui bahwa si A akan mencuri barang si B. Untuk mencegah si A berbuat maksiat dan menyelamatkan si B, Anda diperbolehkan mengadukan rencana si A tersebut ke si B.

  1. Dengan tujuan meminta nasihat.

Hukum ghibah diperbolehkan salah satunya jika ditujukan untuk meminta nasihat atau solusi terhadap permasalahan. Misalkan seorang istri mengadu kepada mertua tentang pebuatan suaminya bahwa selama ini suaminya selingkuh. Lalu meminta saran bagaimana harus menghadapi suaminya yang selingkuh. Hal ini diperbolehkan selama tujuannya untuk kebaikan dan sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan dalam mengadu agar tidak terjadi pertengkaran.

  1. Mengingatkan agar terhindar dari hal buruk.

Salah satu contohnya yaitu menilai negatif (jarh) seorang yang meriwayatkan hadits demi kebenaran dan keadilan. Hal ini diperbolehkan bahkan hukumnya wajib untuk menjaga kebenaran agar tidak menyesatkan umat di kemudian hari.

  1. Jika seseorang melakukan perbuatan buruk secara terang-terangan.

Perbuatan buruk secara terang-terangan misalnya seseorang mabuk-mabukan atau pengeroyokan di depan umum. Ini diperbolehkan untuk mencegah kebatilan, tidak untuk menjelek-jelekkan orang lain atau sebab lain yang merugikan satu pihak.

  1. Untuk ‘memperkenalkan’ seseorang.

Maksud dari ‘memperkenalkan’ seseorang disini adalah saat Anda ingin mengingatkan seseorang kepada orang lain. Misalkan, “Itu lho si Fulan anak sekelas kita yang pendek”. Diperbolehkan menyebut kekurangan seseorang dengan tujuan agar orang lain cepat menangkap apa yang dimaksud, bukan untuk menjelekkan atau menghina orang tersebut. Namun, jika ada ciri lain yang lebih baik untuk mengenalkan orang tersebut, sebaiknya gunakan ciri lain.

 

Anda akan langsung terhubung dengan kami via Whatsapp - Klik Nama dibawah ini.

Chat & Call via Whatsapp Klik Disini